Rabu, 16 November 2011

Mimpi Tentang Kotaku
25 Maret 2011
(Tulisan ringan kedua ditemani secangkir kopi)

Aku menenggak secangkir kopi, sambil duduk di depan teras sebuah café. Café tersebut berada di pinggir jalan utama, dan bangunannya mundur 5 meter dari jalan. Aku menatap orang yang lalu lalang, ada yang berpasangan, ada yang berkeluarga, bahkan ada yang jalan sendiri melewati jalur pedestrian. Dalam hati kecilku, kubertanya,”dimanakah ini?”. “Di kota Medan?”

Jika aku bercerita ku duduk di dalam mall atau plaza, sambil minum kopi dan melihat orang lalu lalang, mungkin itu hal yang biasa di kota Medan. Tapi dimana di kota Medan bisa ditemui jalur pedestrian yang bagus, yang ditumbuhi pohon rindang dan bisa berjalan tanpa terhalangi pohon besar atau bahkan papan iklan. Whats??? Papan iklan???? Itu jalan tuk manusia atau untuk papan iklan ya???

Aku adalah orang yang sampai sekarang masih percaya kalo orang yang tinggal di kota ku ini bukan orang-orang yang malas untuk berjalan cuma dengan jarak 15 menit?? Daripada harus bermacet-macet di jalan dengan jarak yang sama dengan waktu tempuh 1 jam. Tapi sayangnya di kota ku ini, tidak bisa dijumpai, pedestrian yang nyaman, dalam artian memiliki pohon peneduh, jalan yang cukup lebar untuk pejalan kaki, dan memiliki display sepanjang jalan.

Aku pernah bermimpi daerah Kesawan di kota ku ini bisa dijadikan daerah yang seperti itu, bahkan sampai ke jalan Putri Hijau. Tapi kenyataannya itu semua tinggal mimpi. Jalur pedestrian yang kuimpikan hanya tinggal mimpi. Mimpi tuk menenggak secangkir kopi dipinggir jalan sambil mengamati orang lalu lalang pun hanya tinggal mimpi. Apa yang salah? Mari merenung bersama….

Fakhri Aulia,
RAFT origin


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar